Reminder for Teacher

Salah satu yang penting untuk diperhatikan pendidik atau pengajar adalah hendaknya ia menyampaikan pada peserta didiknya tentang manfaat mempelajari suatu ilmu/pelajaran/materi.

Tidak semangatnya peserta didik mengikuti pelajaran bisa jadi disebabkan karena ia tidak tahu apa manfaatnya mempelajari ilmu tersebut.

Hal ini juga berlaku pada bentuk-bentuk pengajaran yang lain.

Tutorial Buka Situs Islam yang Diblokir

HP Android Anda tidak bisa buka situs-situs berita Islam yang sedang
diblokir oleh musuh-musuh Islam?

Tidak usah panik karena khawatir ketinggalan berita Islam…!

Kabar gembira bagi pengguna Android…

Situs-situs tersebut hakikatnya tidak ditutup, tapi hanya diblokir oleh
operator penyedia layanan internet atas permintaan musuh-musuh Islam
akibatnya akses masyarakat ke situs-situs tersebut diblokir sehingga
situs-situs tersebut tidak bisa diakses.

Bagaimana solusinya? Di HP Android Anda masing-masing ada solusinya!!!

Silahkan install aplikasi VPN Master(Free unblock proxy) di HP Android
Anda cukup dengan klik link berikut:

https://play.google.com/store/apps/details?id=free.vpn.unblock.proxy.vpnmaster

Setelah terinstall,

1. Jalankan aplikasi.
2. Tekan tombol lingkaran yang bertuliskan “Touch to connect”
3. Centang kotak disebelah tulisan “Saya mempercayai aplikasi ini.”
4. Tekan tombol OK.
5. Ditunggu hingga proses setting selesai.
6. Tombol lingkaran berubah tulisan menjadi “Connected”.
7. Keluar dari aplikasi dan pastikan di bagian atas layar Android Anda
ada gambar kunci.
8. Silahkan dibuka lagi situs-situs berita Islam yang diblokir.

Bagi pengguna komputer Windows atau Linux silahkan download “Tor
Browser” di: https://www.torproject.org

Tinggal download saja dan diekstrak, tanpa harus diinstall.

Raihlah amal shalih dengan menyebarkan tutorial ini

Mengenang Awal Mula Revolusi Suriah 15 Maret 2011

Oleh Ustadz Fathi Yazid Attamimi, Ketua Umum Misi Medis Suriah

Jumat itu, sedari pagi udara panas membakar hati muslimin Aleppo. Tak ada suara kecuali bisik-bisik di sudut gang serta desir angin yang menandai masuknya musim panas. Musim dingin yang masih menyisakan kesejukan tak mampu meredakan isi otak mereka yang lama sudah mendidih.

Telah sampai di telinga, pertempuran pecah di mana-mana! Di Banias, Syaikh Anas Airud memimpin pasukan kecilnya melabrak posisi-posisi tentara Syi’ah Nushairiah. Pertempuran pertama pecah di kolong jembatan, Ma’rakah Jisr yang terkenal itu.

Seribuan militer bersenjata lengkap disikat ratusan mujahidin amatir yang bahkan banyak dari mereka baru melihat senjata hari itu. Berbekal keikhlasan dan petunjuk alim ulama, kemenangan demi kemenangan Allah turunkan bagai hujan deras di musim kemarau! Mengherankan semua orang, sekaligus mengobarkan semangat kaum muslimin, dan memaksa setiap orang yang mengaku beragama Islam terlibat di dalamnya kalau tidak mau seumur hidup dicap banci!

Aksi Syaikh Anas berlanjut hingga seizin Allah menduduki barak militer di pinggiran kota, memaksa ribuan tentara rezim eksodus, kocar kacir kalah kuat melawan peluru dan teriakan takbir petani, tukang angon kambing, tukang koran, guru ngaji, sampai tukang sapu jalan yang dalam semalam langsung menjelma jadi mujahidin hebat!

Di kota-kota lain demikian pula kisahnya. Penduduk Hama yang dikenal bertipikal lugu, polos dan kadang mudah dibahluli. Tak disangka tak dikira malah terdepan mengobrak-abrik kekuatan besar pasukan rezim yang berpusat di tengah kota! Para serdadu Syi’ah profesional itu terkencing-kencing menghadapi moncong-moncong AK-47 yang dibungkus tauhid dan kemarahan karena Allah!

Dalam seminggu, Hama, yang merupakan salah satu basis terbesar Ikhwanul Muslimin di Suriah, berhasil dikendalikan mujahidin hingga rezim harus meluncurkan jet-jet tempur mereka, membombardir gila-gilaan setiap kerumunan yang berada di jalanan demi melemahkan mental para pejuang!

Berita-berita heroik yang berhembus di pasar-pasar, di kedai kopi, di kamar-kamar hotel, di masjid-masjid, di mana-mana! Dibawa angin bercampur bau mesiu memenuhi kota Aleppo.

Awal revolusi Suriah, selama berminggu-minggu jatuh korban setiap hari karena semua demonstrasi damai dihadapi rezim dengan bidikan sniper dari gedung-gedung tinggi.

Bahkan ledakan mortir serta roket! Anak-anak kecil bergelimpangan, wanita dan orang tua tumbang berdarah-darah, serta para pemuda diselimuti debu ketika mengevakuasi korban dari gedung-gedung yang runtuh dihajar roket!

Suara-suara kebaikan tak lagi didengar Basyar al-Assad (LA), kepalanya dipenuhi ide gila bumi hangus warganya sendiri demi mempertahankan kekuasaan! Maka dua jam sebelum khutbah dimulai masjid agung Aleppo sudah penuh oleh jamaah.

Mereka menanti apa yang akan diserukan para ulama. Karena tinggal para ulama yang mereka percayai akan memimpin Suriah masa depan dalam naungan Islam.

Doa-doa dilantunkan sepanjang hari. Lengan-lengan kaum muslimin berusaha menjangkau langit dalam permohonan mereka pada Allah.

“Yang akan terjadi, terjadilah! Tapi beri kami kekuatan menghadapi masa depan sepahit apapun ya Allah…!”

Lalu dari samping mimbar naik seorang ulama menyeret bungkusan karung besar dan berat. Beliau yang akan berkhutbah dan memimpin shalat jumat. Selain itu beliau pula yang akan menyampaikan hasil musyawarah dewan ulama Kota Aleppo.

Khutbah dimulai berapi-api. Ayat-ayat jihad dibacakan, nasehat-nasehat untuk bersabar dilantunkan, dan surga beserta isinya digambarkan oleh khatib sebagai ganjaran bagi orang-orang yang syahid.

Mafhum lah hadirin, perang akan segera pecah di Aleppo! Suasana tegang, beberapa jamaah terbawa suasana, setiap khatib bertakbir, mereka ikut bertakbir.

Allahu Akbar !!!
Allahu Akbar !!!
Allahu Akbar !!!

Mari kita perang!

Tapi kapan?

Sebelum khutbah berakhir, khatib membuka bungkusan besar yang ia bawa tadi. Didahului teriakan takbir yang keras dan membakar, ia acungkan tinggi-tinggi isi bungkusan miliknya!

AK-47!

Allahu Akbar !!!
Allahu Akbar !!!
Allahu Akbar !!!

Hayya a’lal jihaaaddd…!!!
Khaibar khaibar ya Yahuuud !
Jaisyu Muhammad sauda ya’uuuddd…!
Allahu Akbar…!!!

Bacaan shalat sang imam gaduh oleh isak tangis para jamaah di belakangnya, ayat-ayat jihad yang dibaca semakin menghanyutkan para pendengar pada kondisi emosional tertinggi!

Selesai shalat ratusan pucuk senjata dibagikan pada jamaah masjid. Para ayah pulang berpamitan pada anak istrinya. Para pemuda mencium tangan orang tuanya lama-lama, semoga doa restu menuntun langkah mereka pada kemenangan dunia serta akhirat!

Dan para pedagang menutup tokonya dengan tulisan:

“Tutup untuk berjihad!”

“Tutup sampai Assad mati atau kami yang mati!”

Air mata tumpah di mana-mana, melepas kepergian anggota keluarga yang mungkin tidak akan dijumpai lagi! Sebagian ibu berhati singa melepas anaknya dengan syukuran kecil-kecilan, bagi-bagi permen berikut seisi kulkas di jalan-jalan.

Dan para istri mengalungkan syal bertuliskan kalimat syahadat di leher kekasihnya sambil mengantar mereka bergabung dengan kelompok masing-masing!

Ini situasi yang belum pernah terjadi, aura jihad yang menggetarkan! Penuh romantisme dan mengharukan!

Sore itu pecah baku tembak pertama di Kota Aleppo. Gugur bunga-bunga keharibaan, menemui Sang Pencipta Yang Maha Menjanjikan bahwa kebatilan akan kalah oleh yang hak!!!

Hingga 14 Maret 2015, 4 tahun kemudian, romantisme dan jihad di Aleppo belum juga usai. Bahkan alur cerita macam sinetron yang berpanjang-panjang dan menggelinjang tak berkesudahan terus meluluhlantakkan kota tua bersejarah itu hingga ke puing-puing terakhirnya.

Mari! Kita panjatkan doa sepenuh hati, untuk kemenangan kaum muslimin di Suriah serta medan jihad manapun!

Allahummanshur ikhwaananal mujaahidiina fii Suuriah! Wa fii Falistiin! Wa fii Afghaaan! Wa fii kulli makaaan…!

Demonstrasi damai

 

Tuntutan turunnya diktator Assad

 

Salah satu sudut kota setelah pertempuran

 

Seorang pejuang tertembak, disambut pekikan “Allahu Akbar!” oleh kawan-kawannya! #MujahidinRakyat

 

https://www.facebook.com/aburambo.attamimi/posts/1556690751263462 dan https://www.facebook.com/risalahnews/posts/682098305229040

(Sedikit ada suntingan)

Sepenggal Kisah di Bawah Langit Turky

Oleh Ustadz Aan Chandra Thalib hafizhahullah (Mahasiswa al-Jami’ah al-Islamiyyah bil Madinah al-Munawwarah/Universitas Islam Madinah)

Di dalam buku hariannya Sultan Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kekalutan yang sangat, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.

Sultan berkata kepada kepada kepala pengawal, “Mari kita keluar sejenak.”

Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara menyamar.

Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya. Continue reading

Perhatikan Objek dan Uslub

aaaa

Setiap kita memiliki tanggung jawab untuk mengajak yang lainnya dalam kebenaran, yaitu mengikuti ajaran Allah ‘Azza wa Jalla. Sementara, tak jarang kita jumpai sebagian orang yang merasa berat menerima kebenaran. Namun, dalam hal kebatilan sangat mudah dan ringan di hatinya. Maka, ketika kita akan mengajaknya dalam kebenaran, hendaknya memperhatikan objek dakwah dan uslub (metode) yang akan kita pakai. Sehingga, beratnya menerima kebenaran tidak ditambah dengan beratnya uslub. Karena, tipe tiap orang (objek) berbeda-beda dan metodenya pun harus beda pula.

Nasihat Penting untuk Kita

Beberapa poin penting nasihat Ustadz Sofyan hafizhahullah untuk kita di sela-sela beliau mengajar kami:

Pertama, di antara nasihat beliau yang paling penting adalah bahwa kita hendaknya semangat menuntut ilmu pada saat masih muda karena dalam majelis ilmu beliau terdapat adik-adik yang masih SMP dan SMA.

Ungkapan menarik beliau kutip:

“Menuntut ilmu pada waktu dewasa ibarat mengukir di atas batu, menuntut ilmu pada waktu tua ibarat mengukir di atas air”

Maksudnya ketika kita menuntut ilmu pada saat kecil diibaratkan dengan mengukir batu. Susah tetapi membekas hingga lama. Sedangkan ketika kita menuntut ilmu sudah dewasa akan mudah masuk tetapi juga mudah hilang. Ujungnya, menyesal ketika sudah dewasa atau tua.

Kedua, contoh ulama salaf yang semangat menuntut ilmu dari kecil adalah Imam Syafi’i rahimahullah. Karena kecerdasan dan luasnya ilmu (dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala) beliau rahimahullah menjadi mufti di Mekah pada saat masih muda sekali.

Imam Syafi’i rahimahullah memiliki kecerdasan dan ketajaman hafalan yang luar biasa. Beliau rahimahullah menghafal kitab al-Muwatho’ karya Imam Malik rahimahullah (salah satu guru Imam Syafi’i) dalam satu malam.

Ketiga, jauhilah maksiat agar kita dimudahkan Allah dalam menuntut ilmu, terutama dalam hal menghafal. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Padahal Imam Syafi’i adalah orang yang hafalannya sangat luar biasa.

Keempat, penuntut ilmu janganlah sombong. Seperti sudah dituliskan dalam poin ketiga, Imam Syafi’i rahimahullah menyebut dirinya jelek dalam hafalan, padahal beliau hafal Al-Qur’an sejak masih kecil, bisa menghafal kitab al-Muwatho’ dalam satu malam, belum lagi hafalan-hafalan yang lainnya. Betapa kerendahan hati beliau patut kita contoh.

Kelima, dikatakan berilmu jika ilmu itu sudah masuk ke dalam hati, tidak berada (masih) dalam bentuk buku. Maksudnya ilmu itu harus dihafal dan dipahami.

___

@ Pakintelan, Gunungpati, Kota Semarang
Jum’at, 22 Muharram 1436 H/14 November 2014 M

Kadang (Kita) Perlu Ditekan!

Dalam belajar kadang memang butuh ditekan. Keadaan santai cenderung membuat kita menyepelekan akan suatu pelajaran. Masih ingat kan dulu waktu SD ketika tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru bisa saja penggaris kayu mendarat di tubuh kita? Atau jika tidak bisa menghafal suatu materi diberi hukuman berdiri di depan kelas sambil tangannya memegang telinga?

Menurut hemat saya, yang demikian itu ada baiknya. Seorang penuntut ilmu tidak akan menyepelekan apa yang sedang dipelajarinya. Terutama untuk yang belum terlalu paham apa maksud dia harus mempelajari pelajaran tersebut. Kondisi ketidakpahaman inilah yang terjadi pada sebagian besar anak-anak dan sebagian lagi pada orang yang sudah dewasa.

Misalnya, sebagian besar anak-anak tidak paham mengapa mereka harus belajar membaca al-Qur’an atau mengapa mereka harus belajar matematika. Akan tetapi sesungguhnya baik belajar membaca al-Qur’an maupun belajar matematika dan yang lainnya sangatlah penting bagi mereka.

Seandainya mereka terlenakan hingga mereka enggan untuk belajar, maka akan menjadi masalah kelak mereka dewasa. Belajar ketika dewasa ibarat meluruskan pohon yang bengkok, diperlakukan keras sedikit akan patah. Berbeda dengan ketika masih kecil atau muda, masih mudah untuk diluruskan baik secara lembut maupun paksa. Demikian halnya dengan belajar. Belajar saat masih kecil lebih mudah masuknya atau menyerapnya baik dengan cara lembut atau memungkinkan untuk dipaksa meskipun anak-anak tidak terlalu paham mengapa mereka harus belajar atau mempelajari pelajaran tersebut.

Meskipun dalam belajar ada unsur paksaan atau karena takut kena hukuman, bukan atas kehendaknya sendiri, lama-kelamaan perasaan terpaksa atau takut akan hilang karena sudah terbiasa. Jangan dilupakan ungkapan bijak berikut, “Bisa karena terbiasa, terbiasa karena dipaksa.”

Pemberian punishment seperti ini tidak hanya cocok untuk anak-anak saja. Kadang orang yang sudah dewasa pun perlu untuk diberikan agar lebih rajin lagi dalam belajar dan tidak menyepelekan.

Sayang sekali model belajar yang demikian sudah hampir tidak ada. Berbagai macam alasan mendasari model belajar yang seperti ini semakin hilang. Sebagian besar guru sekarang takut memberikan punishment kepada muridnya karena berbagai macam hal. Maka, tak heran jika kemudian akan muncul generasi yang manja.

Namun demikian, bukan berarti pendidikan harus identik dengan kekerasan, paksaan, tekanan, hukuman. Bukan. Hukuman-hukuman yang diberikan tentulah hukuman yang masih bisa dikerjakan, mendidik, dan bermanfaat. Hendaknya, tanpa ditekan kita mau belajar. Ini jauh lebih baik.

Terima Kasih, Palestina!

Orang-orang Palestina ketika ditanya mengapa mereka tidak pergi saja dari sana dan mengungsi ke negara tetangga — karena cobaan Yahudi terhadap mereka begitu besar, mereka menjawab begini:

“Jika kami keluar dari tanah ini (Palestina), maka siapa lagi yang akan menjaga masjid suci al-Aqsha? Siapa lagi yang akan menjaga tanah wakaf umat Islam? Biarlah kami tetap di sini, mewakili kalian (seluruh umat Islam di dunia), saudaraku.”

Ini membuat kita begitu tertusuk. Tidakkah kita sadar bahwa mereka di sana sebenarnya sedang mewakili kita melindungi tanah suci Palestina? Menggantikan kewajiban kita menjaga warisan umat? Semoga Allah memuliakan mereka semua.

Terima kasih, Palestina!


Copy Paste dari Grup MDC | Muslim Designer Community