Reminder for Teacher

Salah satu yang penting untuk diperhatikan pendidik atau pengajar adalah hendaknya ia menyampaikan pada peserta didiknya tentang manfaat mempelajari suatu ilmu/pelajaran/materi.

Tidak semangatnya peserta didik mengikuti pelajaran bisa jadi disebabkan karena ia tidak tahu apa manfaatnya mempelajari ilmu tersebut.

Hal ini juga berlaku pada bentuk-bentuk pengajaran yang lain.

Punya Teman, Tapi Syi’ah

Seorang teman bercerita tentang dosennya yang mulai terpengaruh Syi’ah, entah dari mana. Sang dosen mulai mencela para sahabat Nabi -radhiyallahu ‘anhhum-.

Pola merasuknya pemahaman Syi’ah itu memang biasanya dimulai dari mengungkit kesalahan para sahabat Rasul. Dan di antara para sahabat, mereka memulai dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan -radhiyallahu ‘anhuma-.

Hal ini sudah diwanti-wanti oleh para ulama terdahulu, seperti Rabi’ bin Nafi’ (w. 241 H), kata beliau:

ﺇﻥ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺳِﺘﺮٌ ﻷﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﻤﻦ ﻛﺸﻒ ﺍﻟﺴِّﺘﺮَ ﺍﺟﺘﺮﺃ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻭﺭﺍﺀﻩ

“Sesungguhnya Muawiyah bin Abi Sufyan adalah tabir bagi para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Siapa yang menyingkap tabir itu, dia akan menyakiti kehormatan orang yang berada di balik tabir.” (Al Bidayah wan Nihayah 8/139)

Anda punya teman yang Syi’ah, hanya ada dua pilihan: Kalau anda punya pemahaman kuat tentang Syi’ah sedangkan dia baru kena syubhat Syi’ah, Anda bisa dakwahi dia. Jika dia Syi’ah tulen dan Anda belum banyak tahu tentang Syi’ah, maka amalkan hadits ini:

ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﺧﻠﻴﻠﻪ ﻓﻠﻴﻨﻈﺮ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻣﻦ ﻳﺨﺎﻟﻞ

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi, shahih)

Karena jika Anda lemah, Anda bisa terbawa ikut-ikutan mencela sahabat.

Pertanyaan selanjutnya, apakah sahabat itu maksum alias suci dari kesalahan? Jawabannya jelas tidak. Ahlus Sunnah tidak menafikkan kekeliruan para sahabat. Akan tetapi Ahlus Sunnah senantiasa berprasangka baik terhadap sahabat dan menahan diri dari mencela mereka. Itu poinnya. Karena Rasulullah bersabda:

ﺇِﺫَﺍ ﺫُﻛِﺮَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ ﻓَﺄَﻣْﺴِﻜُﻮﺍ

“Jika disebut-sebut tentang sahabatku, tahanlah diri kalian (dari mencela mereka).” (HR. Ath Thabrani, shahih)

Dan juga sabda beliau,

ﻟَﺎ ﺗَﺴُﺒُّﻮﺍ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ، ﻟَﺎ ﺗَﺴُﺒُّﻮﺍ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ، ﻓَﻮَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﺑِﻴَﺪِﻩِ، ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﺃَﻧْﻔَﻖَ ﻣِﺜْﻞَ ﺃُﺣُﺪٍ ﺫَﻫَﺒًﺎ ﻣَﺎ ﺃَﺩْﺭَﻙَ ﻣُﺪَّ ﺃَﺣَﺪِﻫِﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻧَﺼِﻴﻔَﻪُ

“Jangan kalian mencela sahabat-sahabatku. Jangan kalian mencela sahabat-sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menandingi satu mud sedekah mereka atau setengahnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Para ulama memandang bahwa mencela para sahabat Rasulullah termasuk kekafiran karena Allah telah mempersaksikan keadilan mereka dalam Al Quran.


Ust. Ristiyan Ragil P -hafizhahullahu ta’ala-
fb.com/pujiantoalbandary/posts/990291397670307

Kebarat-baratan

Syaikh al-Huweini hafizhahullaah pernah bercerita bahwa orang Arab sekarang sudah banyak yang kebarat-baratan.

Contohnya adalah mereka menulis kata dalam bahasa Inggris tapi dengan huruf Arab.

Waktu itu Syaikh pernah masuk ke sebuah toko, lalu beliau melihat ada tulisan di depan toko tersebut: ﻭﻳﻠﻜﻢ. Syaikh membacanya “wailakum” (bermakna: celakalah kalian), tapi ternyata yang dimaksud adalah “wiilkam” (welcome). ‪#‎Ilm‬ First

fb.com/pujiantoalbandary/posts/989980997701347

Doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam

Sudah ma’lum di kalangan orang beriman bahwa doa merupakan senjata yang ampuh. Namun, doa-doa seperti apa yang sering kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Pernahkah kita berdoa agar dijauhkan dari kesyirikan? Sungguh indah doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam dan patut kita contoh disetiap doa-doa kita:

رب اجعل هذا البلد امنا واجنبني وبني أن نعبد الأصنام

Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan JAUHKANLAH aku beserta anak cucuku daripada menyembah ashnaam*

*Ashnaam merupakan apa-apa yang dipahat semisal patung, batu, dll atau secara umum adalah berhala (Faidah Dauroh Aqidah Ust. Utsman Abu Abdirrahman).

Semoga kelak kita dimatikan dalam keadaan bertauhid. Aamiin

Akhy, Ukhty…

Bagi sebagian orang memanggil saudaranya (seiman) dengan akhy/ukhty atau akh fulan/ukh fulanah sudah biasa. Tetapi bagi sebagian yang lain, panggilan seperti ini terasa asing bahkan aneh karena memang tidak terbiasa atau juga karena baru tahu.

Ada suatu kasus, mungkin karena baru tahu dan merasa aneh, malah mempermainkan ucapan “akh/ukh” dengan suara yang tidak “wajar”.

Ada baiknya bagi yang terbiasa dengan istilah seperti ini bijak dalam memanggil. Jangan dipukul rata. Panggillah akh/ukh pada yang memang terbiasa. Sedangkan pada yang belum terbiasa, panggillah dengan sebutan yang sudah menjadi ‘urf di masyarakat, semisal mas, mbak, dll.

Ini bukan dalam rangka menggembosi teman-teman yang biasa memanggil akh/ukh, bukan pula menuduh arabisasi. Boleh-boleh saja.

Wong kami pun kalau dipanggil akh mau-mau saja, kadangkeleus juga memanggil teman dengan akh. Tapi kami juga biasa memanggil dengan panggilan mas/mbak.

Intinya pandai-pandailah dalam memilih diksi yang tepat ketika bercakap. Jangan sampai lawan bicara mengernyitkan dahi tanda tak mudeng dan merasa aneh dengan ucapan yang kita ucap.

The Power of Nyatet

Hati-hati baca judulnya, kalau tidak teliti bisa dibaca the power of nyantet.

Bagi sebagian orang, kegiatan mencatat itu memiliki keistimewaan tersendiri. Karena, pada saat mencatat ada pekerjaan ganda yang dilakukan secara bersamaan, yakni mendengarkan/melihat dan menulis. Sehingga sesuatu yang dicatat mudah diingat. Terlebih, kita punya catatan yang dapat dibaca kembali sewaktu-waktu.

Berbeda jika hanya mendengarkan atau melihat saja. Bagi yang tidak memiliki kemampuan mengingat akan mudah lupa.

Saya pun senang kalau lihat teman yang lagi nyatet, bisa dipinjem, wkwk.

Marah-marah

Beragam reaksi orang dalam menanggapi suatu tulisan yang berjudul. Kasusnya yang e-tulisan di facebook. Baik tulisan dari situs yang dibagikan sehingga hanya tampak judulnya dan sedikit kutipan. Atau tulisan status yang diberi judul, biasanya menggunakan tanda [] untuk mengapit judul -seperti status ini- atau ##.

Mereka terbagi jadi dua tipe pembaca.

Pertama, mereka yang baca judul dan isinya baru menarik simpulan atau intisari tulisan tersebut.

Kedua, mereka yang hanya baca judul tanpa baca isinya tapi langsung justifikasi terhadap inti.

Nah, tipe yang kedua ini sering saya lihat di beberapa akun, personal ataupun fanpage. Jika judulnya menyinggung pribadinya, golongannya, kelompoknya atau apanyalah, doi langsung tersinggung, salto, jungkir balik, atau bahkan marah-marah. Atau “ah males baca, palingan isinya jelek”. Macam status ini, wkwk.

Padahal, jika mau baca keseluruhan, inti dari tulisan itu kadang bisa jadi ‘menyelisihi’ atau tidak pas dengan judulnya.

Ambil contoh Ust. Hasan Al-Jaizy -hafizhahullah-, beliau sering menulis dan membuat judul yang tidak ada kaitannya dengan isi. Tapi isinya mantap. Rugi kalau hanya baca judulnya saja.

Atau sebagian penulis yang redaksi judulnya, “Adakah…?” padahal dalam isinya ya memang ada.

Dan yang lain yang semisal.

So, don’t judge the article just by its title. grin emoticon

Bisa jadi anda kena jebakan batman jika hanya baca judulnya. Atau juga rugi, tidak baca isinya.

https://www%5B.%5Dfacebook%5B.%5Dcom/pujiantoalbandary/posts/974714699227977

Coding

Orang menyajikan teh ada macam-macam gayanya. Ada yang ditarik, ditubruk, dilindas tronton, eh. Demikian pula jomblowan dan jomblowati pun punya cara-cara sendiri untuk mengekspresikan kegalauannya, especially di socmed.

Ada yang bikin meme “menantu terbaik adalah sarjana teknik”, “menantu idaman adalah sarjana pendidikan”, dan yang semisal.

Ada pula yang main kode-kodean.

Ada yang bikin status mujmal (global, tidak tentu siapa yang dimaksud), ya semacam ngode gitu.

Apalagi kalau kode-kodean, lalu ditanggapi sama yang dikode, ya udah jadi main coding. Ngalahin anak IT yang lagi ngembangin web lah pokoknya.

Padahal, sejatinya itu tidak akan mengurangi kegalauan, kecuali sebentar saja.

Solusi yang permanen ya yang sesuai sabda Nabi:

Kami tidak melihat ada solusi bagi sepasang insan yang saling jatuh cinta selain menikah. (HR. Ibnu Majah)

Kalau belum mampu ya puasa. Kurangi ekspos kegalauan di muka umum, isi dengan kegiatan yang bermanfaat; belajar, kajian, menulis (bukan kode-kodean lho ya), dll.

Kok, jadi macam menasehati diri sendiri ya. Ya… memang itu tujuannya…

https://www%5B.%5Dfacebook%5B.%5Dcom/pujiantoalbandary/posts/974270532605727

Dia Pernah Ikut Salafy

Saya pernah dengar orang yang mengatakan “dia pernah ikut salafy”. Sebenarnya rada geli dengar perkataan yang demikian. Bagaimana tidak geli, memangnya ada perekrutan untuk menjadi anggota salafy?

Padahal salafy adalah istilah yang menisbatkan dirinya mengikuti manhaj ulama salaf.

Jadi, siapa saja bisa disebut salafy asalkan dalam beragama mengikuti apa-apa yang telah ditempuh oleh para ulama salaf dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kalau sekarang sudah tidak lagi salafy, lantas siapa (ulama) yang kamu ikuti?

_______
Ahad, 29-06-1436 H