Sabarlah Ibu

Di sebuah rumah kusam dengan dinding retak dengan penuh lubang tembakan. Duduk seorang pemuda dengan berhadapan seorang perempuan renta.

“Ibu sebentar lagi aku berangkat,” kata si pemuda sembari memeluk erat AK dipundaknya.

Dada perempuan itu sebak, namun ia coba untuk menguatkan diri dengan tersenyum.
“Berangkatlah nak dengan nama Allah, jaga kesucian niatmu, jangan pernah engkau bersikap lemah dan di medan pertempuran.” Continue reading

Permasalahkan Perbedaan Ahlus Sunnah – Rafidhah (Syi’ah), Terlambat Lahir?

Jika ada yang mengatakan bahwa orang yang mempermasalahkan (perbedaan pokok) antara Ahlus Sunnah (Sunni) dengan Rafidhah (Syi’ah) adalah orang yang terlambat lahir, mungkin dia tidak kenal Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, dan ulama-ulama sezamannya –rahimahumullah– yang telah mengeluarkan fatwanya mengenai kesesatan Syi’ah.

Nasihat Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sebelum menutup kajian Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah di Masjid Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha Kec. Gunungpati, Kota Semarang (1/11/2014), Ustadz Yazid memberikan nasihat kepada para peserta kajian di mana nasihatnya mengutip dari sebuah hadits berikut:

Humaid bin Mas’adah menceritakan kepada kami, Hushain bin Numair Abu Mihshan menceritakan kepada kami, Husain bin Qais Ar-Rahabi menceritakan kepada kami, Atha’ bin Abu Rabah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Umar, dari Ibnu Mas’ud, dari Rasulullah, beliau bersabda, “Tidaklah kedua telapak kaki seorang hamba —melangkah— di sisi Allah pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai lima perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya? Masa mudanya, digunakan untuk apa? Hartanya, dari mana ia mendapatkannya? Untuk apa ia membelanjakannya? Dan, apa yang telah ia amalkan dari apa yang dia ketahui (dari ilmunya)?” (HR. Tirmidzi) Shahih: Ash-Shahihah (946), At-Ta’liq Ar-Raghib (1/76), dan Ar-Raudh An-Nadhir (648).

Hadirin diminta untuk merenungi nasihat yang terkandung di dalam hadits tersebut.

Ringkasan Kajian Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Ringkasan Kajian Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzahullah
Di Masjid Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, Kec. Gunungpati, Kota Semarang


  1. Salah satu nikmat terbesar yang kita rasakan adalah hidayah Islam, hidayah Sunnah.
  2. Sesungguhnya amal bergantung pada akhirnya.
  3. Orang yang meninggalkan menuntut ilmu termasuk kufur nikmat.
  4. Menuntut ilmu harus semangat. Orang yang bermaksiat saja semangat, orang yang bekerja saja semangat, kenapa yang menuntut ilmu tidak semangat?

Aqidah Islamiyyah

Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama, perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.

Ahlussunnah wal Jama’ah

Ahlussunnah wal Jama’ah adalah: Continue reading

Apa Kata Ulama Tentang Syi’ah?

Imam Malik –rahimahullah– (w 179) berkata, “Orang yang mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki tempat dalam Islam.” (Sunnah, Al Khallal, 1/493)

Beliau juga pernah ditanya bagaimana menyikapi orang-orang Rafidhah, maka ia menjawab, “Jangan berbicara kepada mereka dan jangan bersikap manis, karena mereka semua pendusta.” (Minhaj Sunnah, 1/61)

Al Qadhi Abu Yusuf –rahimahullah– (w 182) berkata, “Saya tidak shalat di belakang seorang Jahmi, Rafidhi (penganut Syi’ah Rafidhah) dan Qadari (penganut Qadariyyah).” (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah, 4/733)

Imam Syafi’i –rahimahullah– (w 204) berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun dari kalangan pengekor hawa nafsu yang paling berdusta dalam pengakuan dan paling palsu dalam kesaksian melebihi orang-orang Rafidhah.” (Ibnu Bathah dalam Al Ibanah Al Kubra, 2/545)

Continue reading

Menjawab Syubhat Syi’ah: Keluarga Nabi Lebih Alim dari Sahabat

Syi’ah mengatakan: “cobalah jawab, mana yang harusnya lebih tahu tentang Islam yang dibawa Nabi, keluarga beliau, ataukah para sahabat beliau?! Bukankah seharusnya keluarga beliau adalah orang yang paling banyak tahu tentang Islam?!

Kita katakan:

  1. Kalau kaidah ini memang benar, tentunya tidak ada kerabat Nabi صلى الله عليه وسلم yang masuk neraka, namun ternyata ada, di antaranya paman beliau: Abu Lahab dan yang lainnya.
  2. Orang yang paling banyak tahu tentang Islam adalah orang yang paling banyak bersama beliau dan paling banyak mengambil ilmu dari beliau, baik dia itu dari keluarga beliau atau yang lainnya. Ketika di rumah, maka keluarga yang sedang bersama beliau yang lebih tahu. Ketika di luar rumah, maka orang yang sedang bersama beliau yang lebih tahu.
  3. Keluarga beliau mencakup istri beliau, hampir setiap hari beliau bersama istrinya, lalu mengapa mereka dicampakkan oleh kaum Syi’ah?
  4. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak membedakan dalam menyampaikan Risalah Islam, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan sahabat Ali رضي الله عنه: “Tidak ada kitab (khusus) yang kami baca, selain kitabullah dan apa yang ada dalam lembaran ini, di dalamnya ada aturan hukum qishash dan (ketentuan) umur-umur onta“, lalu beliau menyebutkan beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (HR. Bukhori)
  5. Rasulullah صلى الله عليه وسلم lebih banyak menyampaikan Islam di luar rumah, baik di masjid beliau ataupun di tempat lain, sehingga tidak otomatis keluarga beliau lebih tahu ilmu daripada orang lain.
  6. Sebagaimana telah biasa terjadi, orang yang paling tahu tentang ilmu seseorang adalah orang yang paling banyak mengambil ilmu dari orang tersebut, dan itu tidak mengharuskan dari keluarganya. Bahkan seringkali seorang murid kesayangan atau teman akrab seseorang lebih banyak tahu tentang ilmu orang tersebut daripada keluarganya sendiri.
  7. Ajaran yang murni dari para Ahlul Bait tidak bertentangan dengan ajaran para Sahabat Nabi, ajaran mereka sama dan saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan.

Sungguh ‘mencintai Ahlul Bait’ adalah tuntutan iman kita. Tapi mencintai mereka tidak mengharuskan kita meninggalkan atau membenci atau merendahkan para sahabat Nabi lainnya. Karena mereka adalah satu generasi yang saling melengkapi dan tidak mungkin dipisahkan.

Jika mereka mengaku bermadzhab Ahlul Bait, maka bolehlah kita mengaku bermadzhab Ahlul Bait dan Sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم.

Wallahu a’lam


Artikel Muslim.Or.Id (dengan sedikit suntingan)

Syi’ah Detected! Paham Sesat Syi’ah Masuk ke Buku PAI SMK

Ajaran sesat Syi’ah sudah mulai berani merusak umat Islam di Indonesia, baik itu secara terang-terangan maupun dengan “mengumpet” di balik ajaran taqiyah-nya (dusta).

Yang mencengangkan adalah masuknya paham sesat Syi’ah di Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMK Kelas XI kurikulum 2013.

Dalam buku tersebut terdapat pemaknaan kata ‘ulil amri’ yang menyerupai pemahaman kelompok sesat tersebut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa makna ulil amri adalah sebagai berikut:

“Para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Ada yang berpendapat bahwa maksud kata ‘penguasa’ adalah imam-imam di kalangan ‘ahlul bait’ (keluarga Nabi saw. dari keturunan Ali dan Fatimah), ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah ‘penyeru-penyeru’ pada kebaikan dan ada pula yang berpendapat ‘pemuka-pemuka agama yang diikuti kata-katanya’.”

Syiah detectedPenjelasan “ulil amri” dengan pemahaman bahwa mereka adalah imam-imam Syi’ah bukanlah pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, melainkan pendapat yang berasal dari tradisi Syi’ah.

Jika merujuk pada Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia penjelasannya adalah sebagai berikut, Continue reading

Prinsip Pokok Ahlussunnah

1. Al Qur’an asli, lengkap dan terjaga.
2. Rasulullah men-tabligh semua ajaran Islam tanpa ada yang disembunyikan.
3. Mencintai dan meneladani sahabat Rasulullah.
4. Mencintai dan meneladani ahlul bait (termasuk istri-istri Rasulullah).
5. Selain Rasulullah tidak ada yang maksum.
6. Landasan pokok syariat: Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’ sahabat Nabi.
7. Hanya Allah yang tahu perkara ghaib.
8. Jumlah imam tidak terbatas, siapa yang memenuhi syarat kafa’ah dan dipilih oleh umat maka sah sebagai imam.
9. Selalu berjamaah dan tidak menyempal.
10. Selalu menegakkan shalat Jum’at dan syiar-syiar berjamaah.

Disampaikan oleh Ustadz Fahmi Salim, MA (MUI Pusat) pada acara membedah Buku Panduan MUI Pusat tentang kesesatan Syiahdi UIN Riau.

Sejarah Ringkas Syi’ah

Mengenal-Aqidah-Sesat-Syiah-di-Indonesia

Ada yang menganggap Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu‘anhu atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Thalib radhiyallahu‘anhu. Pada masa itu terjadi pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu‘anhu, yang berakhir dengan kesyahidan Utsman dan ada tuntutan umat agar Ali bin Thalib radhiyallahu‘anhu bersedia di-baiat sebagai khalifah.

Tampaknya pendapat yang paling populer adalah bahwa Syi’ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu‘anhu di Siffin yang lazim disebut sebagai peristiwa at-Tahkim (arbitrasi). Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan Ali menentang kepemimpinannya dan keluar dari pasukan Ali. Mereka ini disebut golongan khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Sebagian besar orang yang tetap setia kepada khalifah disebut Syi’ah Ali (Pengikut Ali).1

Istilah Syi’ah pada era kekhalifahan Ali hanyalah bermakna pembelaan dan dukungan politik.2 Syi’ah Ali yang muncul pertama kali pada era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu‘anhu, bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saat itu melawan pihak Mu’awiyah, dan hanya bersifat kultural, bukan bercorak akidah seperti yang dikenal pada masa sesudahnya hingga sekarang.

Continue reading

Hati-Hati dengan Website atau Blog Tandingan Buatan Syi’ah (2)

Bismillah, berikut ini website/blog tandingan buatan Syi’ah yang dibuat mirip dengan website/blog Ahlussunnah wal jama’ah (Sunni) yang pernah saya jumpai.

www[dot]lppimakassar[dot]net (Syi’ah), yang Ahlussunnah www[dot]lppimakassar[dot]com (Islam)

www[dot]nahimunkar[dot]net (Syiah), yang Ahlussunnah www[dot]nahimunkar[dot]com (Islam)

www[dot[sunnahdefenceleague[dot]blogspot[dot]com (Syi’ah), yang Ahlussunnah www[dot]sunnahdefenceleague[dot]com (Islam)

Sekilas mirip, hanya beda domainnya saja. Jika kita tidak hati-hati, maka akan tertipu dalam perangkap Syi’ah.

Jangan terperdaya dengan website-website yang sebenarnya milik Syi’ah tapi dibuat mirip dengan milik Islam (Ahlussunnah wal jama’ah/Sunni).

Selain itu, saya menemukan satu lagi, sunnahcare[dot]blogspot[dot]com sekilas mirip blog ahlussunnah, tapi sebenarnya itu blog Syi’ah.

Semoga kita dijauhkan dari makar Syi’ah. Aamiin.