Bahaya Syirik

Gambar nahimunkar.com

Keharusan bagi setiap muslim, setelah dia mengenal perkara yang ha  q adalah mengenal lawannya, yaitu perkara yang batil; bukan untuk mengamalkan kebatilan tersebut, melainkan untuk menjauhinya. Sahabat yang mulia Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Manusia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perkara-perkara yang baik, sedangkan aku bertanya tentang keburukan karena aku takut akan mendapatinya,”1

Setelah kita mengenal tauhid beserta semua kebaikannya, kita harus mengenal lawannya, yaitu syirik beserta segala keburukannya, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

وإذ قال إبرهيم رب اجعل هذا البلد ءامنا واجنبنى وبني ان نعبد الاصنام

رب انهن اضللن كثيرا من الناس ۖ فمن تبعنى فإنه منى ۖ ومن عصانى فإنك غفور رحيم

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia.” (QS. Ibrahim: 35-36) Continue reading

Menjawab Syubhat Syi’ah: Keluarga Nabi Lebih Alim dari Sahabat

Syi’ah mengatakan: “cobalah jawab, mana yang harusnya lebih tahu tentang Islam yang dibawa Nabi, keluarga beliau, ataukah para sahabat beliau?! Bukankah seharusnya keluarga beliau adalah orang yang paling banyak tahu tentang Islam?!

Kita katakan:

  1. Kalau kaidah ini memang benar, tentunya tidak ada kerabat Nabi صلى الله عليه وسلم yang masuk neraka, namun ternyata ada, di antaranya paman beliau: Abu Lahab dan yang lainnya.
  2. Orang yang paling banyak tahu tentang Islam adalah orang yang paling banyak bersama beliau dan paling banyak mengambil ilmu dari beliau, baik dia itu dari keluarga beliau atau yang lainnya. Ketika di rumah, maka keluarga yang sedang bersama beliau yang lebih tahu. Ketika di luar rumah, maka orang yang sedang bersama beliau yang lebih tahu.
  3. Keluarga beliau mencakup istri beliau, hampir setiap hari beliau bersama istrinya, lalu mengapa mereka dicampakkan oleh kaum Syi’ah?
  4. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak membedakan dalam menyampaikan Risalah Islam, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan sahabat Ali رضي الله عنه: “Tidak ada kitab (khusus) yang kami baca, selain kitabullah dan apa yang ada dalam lembaran ini, di dalamnya ada aturan hukum qishash dan (ketentuan) umur-umur onta“, lalu beliau menyebutkan beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (HR. Bukhori)
  5. Rasulullah صلى الله عليه وسلم lebih banyak menyampaikan Islam di luar rumah, baik di masjid beliau ataupun di tempat lain, sehingga tidak otomatis keluarga beliau lebih tahu ilmu daripada orang lain.
  6. Sebagaimana telah biasa terjadi, orang yang paling tahu tentang ilmu seseorang adalah orang yang paling banyak mengambil ilmu dari orang tersebut, dan itu tidak mengharuskan dari keluarganya. Bahkan seringkali seorang murid kesayangan atau teman akrab seseorang lebih banyak tahu tentang ilmu orang tersebut daripada keluarganya sendiri.
  7. Ajaran yang murni dari para Ahlul Bait tidak bertentangan dengan ajaran para Sahabat Nabi, ajaran mereka sama dan saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan.

Sungguh ‘mencintai Ahlul Bait’ adalah tuntutan iman kita. Tapi mencintai mereka tidak mengharuskan kita meninggalkan atau membenci atau merendahkan para sahabat Nabi lainnya. Karena mereka adalah satu generasi yang saling melengkapi dan tidak mungkin dipisahkan.

Jika mereka mengaku bermadzhab Ahlul Bait, maka bolehlah kita mengaku bermadzhab Ahlul Bait dan Sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم.

Wallahu a’lam


Artikel Muslim.Or.Id (dengan sedikit suntingan)