Ambil Hikmah atas Kenaikan Harga BBM Bersubsidi

Secara pribadi, saya merasa keberatan dengan adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Saya merasa keberatan karena biasanya kenaikan harga BBM bersubsidi ini selalu diikuti dengan kenaikan harga barang-barang kebutuhan yang lainnya. Jelas ini memberatkan saya karena saya tinggal di rumah kos, jauh dari orang tua yang tentunya harus me-manage uang sendiri. Makan pun saya harus membeli ke warung. Apalagi saya adalah penerima beasiswa, sepertinya uang beasiswa tidak naik. Jika pun naik, entah kapan. Untuk yang tinggal di rumah sendiri pun (masyarakat luas) saya rasa mereka merasa keberatan juga.

Namun apa daya yang bisa saya lakukan. Semua sudah terjadi, pemerintah telah menaikkannya. Apakah saya harus berdemo mendesak pemerintah untuk menurunkan harga BBM bersubsidi? Menurut saya ini bukanlah cara yang baik dan efektif. Saya pun tak tahu dengan cara apa agar pemerintah menurunkan harga BBM bersubsidi, agar tak memberatkan masyarakat. Atau setidaknya ada kompensasi pengganti kenaikan harga BBM bersubsidi dengan kompensasi yang jelas.

Dengan adanya kenaikan BBM bersubsidi ini, kita bisa mengambil hikmahnya, lebih-lebih kita adalah seorang muslim yang tinggal di kos (jadi mahasiswa).

Pertama, dengan naiknya harga BBM bersubsidi ini menuntut kita untuk hidup hemat. Hemat bukan berarti pelit. Pengeluaran dikelola dengan baik agar tidak terjadi pemborosan.

Kedua, jika kita memiliki sepeda motor, gunakanlah ia seperlunya saja. Penggunaan sepeda motor yang seperlunya akan sedikit menghemat bahan bakar yang dipakai. Misalnya sepeda motor dipakai untuk pergi pulang dari kampus ke rumah, pergi pulang kos ke kampus, pergi pulang dari kos ke tempat agenda yang jauh misalnya tempat ngaji/kajian atau masjid ketika mau jum’atan, dan lain-lain yang sekiranya sangat membutuhkan untuk menggunakan motor.

Ketiga, mulai kembali budayakan jalan kaki. Selain menyehatkan, ini juga bisa menghemat penggunaan BBM. Jika memungkinkan, bagi mahasiswa bisa berjalan kaki setiap berangkat dan pulang kuliah.

Dan, yang lain sebagainya.

Terakhir, yang memberi rezeki kita adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka jangan enggan untuk meminta rezeki pada Allah ‘Azza wa Jalla. Berharaplah kepada-Nya, jangan kepada makhluk-Nya.

Advertisements