Bercermin pada Kakek Tua

Ada yang menarik pada saat penyelenggaraan Daurah Qawaid Fiqhiyah Kubra di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, 24-25 Rabi’uts Tsani 1436 H (14-15 Februari 2015 M) yang lalu.

Pada umumnya, peserta daurah adalah mahasiswa. Namun ada beberapa peserta yang sepertinya sudah bukan mahasiswa lagi. Termasuk salah satu peserta yang saya kisahkan di sini. Peserta yang istimewa dan inspiratif menurut saya.

Ia adalah seorang kakek yang usianya sudah lanjut. Bahkan rambutnya sudah penuh dengan uban.

Beliau adalah pensiunan pegawai Tata Usaha Universitas Gadjah Mada (TU UGM) Yogyakarta. Pensiun pada tahun 1996, menurut yang dikatakan beliau. Pantas saja jika beliau sudah terlihat cukup sepuh. Continue reading

Empat Masalah yang Wajib bagi Setiap Manusia untuk Mempelajarinya

Empat masalah yang wajib bagi setiap manusia untuk mempelajarinya:

  1. Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal Agama Islam dengan dalil-dalilnya
  2. Amal, yaitu mengamalkan ilmu tersebut
  3. Dakwah, yaitu mendakwahkan ilmu tersebut
  4. Sabar, yaitu bersabar atas berbagai gangguan dan rintangan dalam menuntut ilmu, beramal, serta berdakwah

Dalilnya:

بسم الله الرحمن الرحيم
والعصر
ان الإنسان لفي خسر
الا الذين امنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوابالصبر

Artinya

  1. Demi masa.
  2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
  3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (QS. Al-Ashr : 1-3)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang surat ini:

لو ماأنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم

 

“Seandainya Allah tidak menurunkan satu hujjah kepada makhluknya kecuali surat ini niscaya telah cukup bagi mereka” (Lihat Miftah Daris Sa’adah karya Ibnul Qoyyim (1/83) dan Tafsir Ibnu Katsir (3/585)

___

Diambil dari Cara Mudah Memahami Ushulus Tsalatsah (Soal Jawab Tentang Tiga Landasan Utama) [terjemahan], penyusun Syaikh Muhammad At-Thoyyib Al-Anshori

Nasihat Penting untuk Kita

Beberapa poin penting nasihat Ustadz Sofyan hafizhahullah untuk kita di sela-sela beliau mengajar kami:

Pertama, di antara nasihat beliau yang paling penting adalah bahwa kita hendaknya semangat menuntut ilmu pada saat masih muda karena dalam majelis ilmu beliau terdapat adik-adik yang masih SMP dan SMA.

Ungkapan menarik beliau kutip:

“Menuntut ilmu pada waktu dewasa ibarat mengukir di atas batu, menuntut ilmu pada waktu tua ibarat mengukir di atas air”

Maksudnya ketika kita menuntut ilmu pada saat kecil diibaratkan dengan mengukir batu. Susah tetapi membekas hingga lama. Sedangkan ketika kita menuntut ilmu sudah dewasa akan mudah masuk tetapi juga mudah hilang. Ujungnya, menyesal ketika sudah dewasa atau tua.

Kedua, contoh ulama salaf yang semangat menuntut ilmu dari kecil adalah Imam Syafi’i rahimahullah. Karena kecerdasan dan luasnya ilmu (dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala) beliau rahimahullah menjadi mufti di Mekah pada saat masih muda sekali.

Imam Syafi’i rahimahullah memiliki kecerdasan dan ketajaman hafalan yang luar biasa. Beliau rahimahullah menghafal kitab al-Muwatho’ karya Imam Malik rahimahullah (salah satu guru Imam Syafi’i) dalam satu malam.

Ketiga, jauhilah maksiat agar kita dimudahkan Allah dalam menuntut ilmu, terutama dalam hal menghafal. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Padahal Imam Syafi’i adalah orang yang hafalannya sangat luar biasa.

Keempat, penuntut ilmu janganlah sombong. Seperti sudah dituliskan dalam poin ketiga, Imam Syafi’i rahimahullah menyebut dirinya jelek dalam hafalan, padahal beliau hafal Al-Qur’an sejak masih kecil, bisa menghafal kitab al-Muwatho’ dalam satu malam, belum lagi hafalan-hafalan yang lainnya. Betapa kerendahan hati beliau patut kita contoh.

Kelima, dikatakan berilmu jika ilmu itu sudah masuk ke dalam hati, tidak berada (masih) dalam bentuk buku. Maksudnya ilmu itu harus dihafal dan dipahami.

___

@ Pakintelan, Gunungpati, Kota Semarang
Jum’at, 22 Muharram 1436 H/14 November 2014 M

Jangan Remehkan Anak Muda

Umar bin Khattab radhiallahu’anhu seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah membawa Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma yang juga sahabat Rasulullah yang saat itu masih muda, ke perkumpulan orang-orang tua yang pernah ikut perang Badar.

Orang-orang tua ini berkata kepada Umar, “Kenapa kau bawa anak kecil ini? di rumah kita juga ada”. Umar menjawab, “Yaa, begitulah”.

Sampai satu saat Umar bin Khattab sengaja mengumpulkan orang-orang tua tersebut dan turut mengundang pula Ibnu Abbas. Umar bertanya kepada orang-orang tua tersebut, “Apa komentar kalian tentang ayat, Continue reading