Etika dalam Berbeda Pendapat Seorang Muslim

Bismillah,

“Sesungguhnya segala bentuk perbedaan itu dapat diambil jalan kedamainnya, kecuali perbedaan agama” (syair nasehat).

Jika kita dihadapkan pada perbedaan pendapat, maka selayaknya sebagai seorang muslim, mukmin bahkan masuk tingkatan muhsin harus mencerminkan akhlak seorang muslim dalam menghadapinya.

Adapun etika dalam berbeda pendapat seorang muslim diantaranya:

1. Ikhlas dan Mencari yang haq serta melepaskan diri dari nafsu di saat berbeda pendapat, (menjauhkan diri dari sifat ingin tampil dan membela diri)
2. Mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Al-q ur’an dan As-sunah
3. Berbaik sangka terhadap orang yang berbeda pendapat denganmu
4. Sebisa mungkin untuk tidak memperuncing permasalahan/perselisihan
5. Berusaha sebisa mungkin tidak mudah menyalahkan orang lain (Kecuali sesudah penelitian yang dalam dan difikirkan secara matang)
6. berlapang dada (dalam menerima kritikan dari orang lain padamu)
7. Sedapat mungkin menghindarkan permasalahan-permasalahan khilafiyah dan fitnah, (namun jika permasalahan itu sesuatu yang jelas hal yang diharamkan bahkan syirik “telah dijelaskan dalam Al-qur’an maupun As-sunnah”, maka harus ditegur dengan tegas, namun jangan mudah mengkafirkan orang lain, bisa dilihat adab amar makruf nahi munkar)
8. Berpegang teguh dengan etika berdialog dan menghindari perdebatan (saling mengungkit, dan bantah-membantah dan kasar menghadapi lawan)
(diambil dari buku, “Etika Seorang Muslim”)

Wallahu a’lam bishawab,
hanya Allah semata yang berikan Hidayah dan taufik.

Status facebook akhi fillah Torihin Al-Juhdy

Advertisements

Mengingat Kematian

Foto Eramuslim.com

Sesungguhnya di antara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah panjang angan-angan dan lupa akan kematian. Oleh karena itu di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi, dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian. Janganlah ada yang menyangka bahwa pendek angan-angan akan menghambat pemakmuran dunia. Persoalannya tidak demikian, bahkan memakmurkan dunia disertai pendek angan-angan justeru akan lebih dekat kepada ibadah, jika bukan ibadah yang murni.

Rasulullah saw bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi) Continue reading

Orientasi Hidup Seorang Muslim

| mutiara qur’an |

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash [28]: 77)

MUQADDIMAH

Modernisasi diakui atau tidak telah berhasil mempengaruhi sebagian besar umat Islam untuk berpikir pragmatis. Hal ini secara perlahan menjadikan mereka ragu akan janji-janji Allah ta’ala. Bahkan (tanpa sadar) mereka telah tersesat dari jalan Allah ta’ala. Sebab, mereka lebih memilih mengabdi kepada dunia daripada total mengabdi kepada Allah ta’ala.

Continue reading