Kadang (Kita) Perlu Ditekan!

Dalam belajar kadang memang butuh ditekan. Keadaan santai cenderung membuat kita menyepelekan akan suatu pelajaran. Masih ingat kan dulu waktu SD ketika tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru bisa saja penggaris kayu mendarat di tubuh kita? Atau jika tidak bisa menghafal suatu materi diberi hukuman berdiri di depan kelas sambil tangannya memegang telinga?

Menurut hemat saya, yang demikian itu ada baiknya. Seorang penuntut ilmu tidak akan menyepelekan apa yang sedang dipelajarinya. Terutama untuk yang belum terlalu paham apa maksud dia harus mempelajari pelajaran tersebut. Kondisi ketidakpahaman inilah yang terjadi pada sebagian besar anak-anak dan sebagian lagi pada orang yang sudah dewasa.

Misalnya, sebagian besar anak-anak tidak paham mengapa mereka harus belajar membaca al-Qur’an atau mengapa mereka harus belajar matematika. Akan tetapi sesungguhnya baik belajar membaca al-Qur’an maupun belajar matematika dan yang lainnya sangatlah penting bagi mereka.

Seandainya mereka terlenakan hingga mereka enggan untuk belajar, maka akan menjadi masalah kelak mereka dewasa. Belajar ketika dewasa ibarat meluruskan pohon yang bengkok, diperlakukan keras sedikit akan patah. Berbeda dengan ketika masih kecil atau muda, masih mudah untuk diluruskan baik secara lembut maupun paksa. Demikian halnya dengan belajar. Belajar saat masih kecil lebih mudah masuknya atau menyerapnya baik dengan cara lembut atau memungkinkan untuk dipaksa meskipun anak-anak tidak terlalu paham mengapa mereka harus belajar atau mempelajari pelajaran tersebut.

Meskipun dalam belajar ada unsur paksaan atau karena takut kena hukuman, bukan atas kehendaknya sendiri, lama-kelamaan perasaan terpaksa atau takut akan hilang karena sudah terbiasa. Jangan dilupakan ungkapan bijak berikut, “Bisa karena terbiasa, terbiasa karena dipaksa.”

Pemberian punishment seperti ini tidak hanya cocok untuk anak-anak saja. Kadang orang yang sudah dewasa pun perlu untuk diberikan agar lebih rajin lagi dalam belajar dan tidak menyepelekan.

Sayang sekali model belajar yang demikian sudah hampir tidak ada. Berbagai macam alasan mendasari model belajar yang seperti ini semakin hilang. Sebagian besar guru sekarang takut memberikan punishment kepada muridnya karena berbagai macam hal. Maka, tak heran jika kemudian akan muncul generasi yang manja.

Namun demikian, bukan berarti pendidikan harus identik dengan kekerasan, paksaan, tekanan, hukuman. Bukan. Hukuman-hukuman yang diberikan tentulah hukuman yang masih bisa dikerjakan, mendidik, dan bermanfaat. Hendaknya, tanpa ditekan kita mau belajar. Ini jauh lebih baik.

Manusia Cerdas dan Berkarakter

Istilah nation dan character building adalah istilah klasik sepanjang sejarah modern Indonesia. Istilah ini mencuat kembali sejak tahun 2010 ketika pendidikan karakter dijadikan sebagai gerakan nasional pada puncak acara Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010. Munculnya pendidikan karakter ini dilatarbelakangi oleh semakin terkikisnya sebagai bangsa Indonesia, dan sekaligus sebagai upaya pembangunan manusia Indonesia yang berakhlak budi pekerti yang mulia. Munculnya gagasan program pendidikan karakter di Indonesia, bisa dimaklumi. Sebab, proses pendidikan dirasakan belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut pendidikan telah gagal karena banyak lulusan sekolah atau sarjana yang berotak cerdas, namun mental dan moralnya lemah. Continue reading