Permasalahkan Perbedaan Ahlus Sunnah – Rafidhah (Syi’ah), Terlambat Lahir?

Jika ada yang mengatakan bahwa orang yang mempermasalahkan (perbedaan pokok) antara Ahlus Sunnah (Sunni) dengan Rafidhah (Syi’ah) adalah orang yang terlambat lahir, mungkin dia tidak kenal Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, dan ulama-ulama sezamannya –rahimahumullah– yang telah mengeluarkan fatwanya mengenai kesesatan Syi’ah.

[Catatan Kajian Ba’da Shubuh 22/9/14] Menjaga Amal Kebaikan

[Dalil Al-Qur’an]

– Al-Hadid: 16
– Al-Hadid: 27
– An-Nahl: 92
– Al-Hijr: 99

[Hadits 1]

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata, “Ketaatan yang paling disukai Rasulullah adalah yang dilakukan secara terus menerus.”

[Hadits 2]

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, “Barangsiapa tidur dan belum membaca hizib (bacaan Al-Qur’an yang biasa ia lakukan) atau hanya melakukan sebagiannya, lalu dibaca antara shalat subuh dan zhuhur, maka pahala yang dicatat seolah-olah ia membacanya pada waktu malam.” (HR. Muslim)

Pelajaran hadits:

1. Kita dianjurkan untuk memiliki wirid atau amal kebaikan yang dilakukan secara rutin.
2. Orang yang terbiasa membaca wirid, lalu suatu saat ia lupa atau ada halangan tertentu sehingga ia tidak bisa membaca wirid tersebut pada waktu biasanya, kemudian ia melakukannya di waktu yang lain, maka pahala yang ia dapat seperti yang biasa ia peroleh.

[Hadits 3]

Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam pernah bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti fulan. Dahulu, dia biasa melakukan shalat malam, lalu ia meninggalkannya.'” (Muttafaq ‘alaih)

Pelajaran hadits:

1. Sebaiknya kita merahasiakan nama seseorang yang melakukan hal-hal tidak terpuji.
2. Kebaikan yang biasa kita lakukan sebaiknya terus kita lakukan.

[Hadits 4]

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam jika tidak shalat malam karena sakit atau lainnya, beliau melakukan shalat 12 rakaat di siang hari.” (HR. Muslim)

Pelajaran hadits:

1. Wirid atau amal kebaikan yang rutin dilakukan, lalu suatu saat tidak bisa dilakukan karena satu atau lain hal, sebaiknya dilakukan ketika halangan tersebut sudah tidak ada.
2. Hadits ini merupakan dalil diperbolehkannya meng-qadha amal yang sifatnya sunnah.

Diambil dari Kitab Riyadhus Shalihin karya Al-Imam Nawawi –rahimahullah

Amalan Ringan yang Besar Pahalanya

At Tauhid edisi VII/40

Oleh: Ammi Nur Baits

Alhamdulillah washshalatu wassalaamu ‘ala Rasulillah. Kaum muslimin yang dirahmati Allah, di antara yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada kita adalah rutin mengamalkan amalan shalih meskipun amalan itu sedikit dan ringan, atau bahkan dipandang remeh oleh sebagian orang. Namun ternyata tanpa kita sangka, ternyata amalan tersebut mengandung pahala yang besar.

Berikut adalah beberapa amalan yang mudah dan ringan untuk dilakukan, namun besar pahalanya, berdasarkan hadits yang shahih: Continue reading