Sabarlah Ibu

Di sebuah rumah kusam dengan dinding retak dengan penuh lubang tembakan. Duduk seorang pemuda dengan berhadapan seorang perempuan renta.

“Ibu sebentar lagi aku berangkat,” kata si pemuda sembari memeluk erat AK dipundaknya.

Dada perempuan itu sebak, namun ia coba untuk menguatkan diri dengan tersenyum.
“Berangkatlah nak dengan nama Allah, jaga kesucian niatmu, jangan pernah engkau bersikap lemah dan di medan pertempuran.” Continue reading

Mengenang Awal Mula Revolusi Suriah 15 Maret 2011

Oleh Ustadz Fathi Yazid Attamimi, Ketua Umum Misi Medis Suriah

Jumat itu, sedari pagi udara panas membakar hati muslimin Aleppo. Tak ada suara kecuali bisik-bisik di sudut gang serta desir angin yang menandai masuknya musim panas. Musim dingin yang masih menyisakan kesejukan tak mampu meredakan isi otak mereka yang lama sudah mendidih.

Telah sampai di telinga, pertempuran pecah di mana-mana! Di Banias, Syaikh Anas Airud memimpin pasukan kecilnya melabrak posisi-posisi tentara Syi’ah Nushairiah. Pertempuran pertama pecah di kolong jembatan, Ma’rakah Jisr yang terkenal itu.

Seribuan militer bersenjata lengkap disikat ratusan mujahidin amatir yang bahkan banyak dari mereka baru melihat senjata hari itu. Berbekal keikhlasan dan petunjuk alim ulama, kemenangan demi kemenangan Allah turunkan bagai hujan deras di musim kemarau! Mengherankan semua orang, sekaligus mengobarkan semangat kaum muslimin, dan memaksa setiap orang yang mengaku beragama Islam terlibat di dalamnya kalau tidak mau seumur hidup dicap banci!

Aksi Syaikh Anas berlanjut hingga seizin Allah menduduki barak militer di pinggiran kota, memaksa ribuan tentara rezim eksodus, kocar kacir kalah kuat melawan peluru dan teriakan takbir petani, tukang angon kambing, tukang koran, guru ngaji, sampai tukang sapu jalan yang dalam semalam langsung menjelma jadi mujahidin hebat!

Di kota-kota lain demikian pula kisahnya. Penduduk Hama yang dikenal bertipikal lugu, polos dan kadang mudah dibahluli. Tak disangka tak dikira malah terdepan mengobrak-abrik kekuatan besar pasukan rezim yang berpusat di tengah kota! Para serdadu Syi’ah profesional itu terkencing-kencing menghadapi moncong-moncong AK-47 yang dibungkus tauhid dan kemarahan karena Allah!

Dalam seminggu, Hama, yang merupakan salah satu basis terbesar Ikhwanul Muslimin di Suriah, berhasil dikendalikan mujahidin hingga rezim harus meluncurkan jet-jet tempur mereka, membombardir gila-gilaan setiap kerumunan yang berada di jalanan demi melemahkan mental para pejuang!

Berita-berita heroik yang berhembus di pasar-pasar, di kedai kopi, di kamar-kamar hotel, di masjid-masjid, di mana-mana! Dibawa angin bercampur bau mesiu memenuhi kota Aleppo.

Awal revolusi Suriah, selama berminggu-minggu jatuh korban setiap hari karena semua demonstrasi damai dihadapi rezim dengan bidikan sniper dari gedung-gedung tinggi.

Bahkan ledakan mortir serta roket! Anak-anak kecil bergelimpangan, wanita dan orang tua tumbang berdarah-darah, serta para pemuda diselimuti debu ketika mengevakuasi korban dari gedung-gedung yang runtuh dihajar roket!

Suara-suara kebaikan tak lagi didengar Basyar al-Assad (LA), kepalanya dipenuhi ide gila bumi hangus warganya sendiri demi mempertahankan kekuasaan! Maka dua jam sebelum khutbah dimulai masjid agung Aleppo sudah penuh oleh jamaah.

Mereka menanti apa yang akan diserukan para ulama. Karena tinggal para ulama yang mereka percayai akan memimpin Suriah masa depan dalam naungan Islam.

Doa-doa dilantunkan sepanjang hari. Lengan-lengan kaum muslimin berusaha menjangkau langit dalam permohonan mereka pada Allah.

“Yang akan terjadi, terjadilah! Tapi beri kami kekuatan menghadapi masa depan sepahit apapun ya Allah…!”

Lalu dari samping mimbar naik seorang ulama menyeret bungkusan karung besar dan berat. Beliau yang akan berkhutbah dan memimpin shalat jumat. Selain itu beliau pula yang akan menyampaikan hasil musyawarah dewan ulama Kota Aleppo.

Khutbah dimulai berapi-api. Ayat-ayat jihad dibacakan, nasehat-nasehat untuk bersabar dilantunkan, dan surga beserta isinya digambarkan oleh khatib sebagai ganjaran bagi orang-orang yang syahid.

Mafhum lah hadirin, perang akan segera pecah di Aleppo! Suasana tegang, beberapa jamaah terbawa suasana, setiap khatib bertakbir, mereka ikut bertakbir.

Allahu Akbar !!!
Allahu Akbar !!!
Allahu Akbar !!!

Mari kita perang!

Tapi kapan?

Sebelum khutbah berakhir, khatib membuka bungkusan besar yang ia bawa tadi. Didahului teriakan takbir yang keras dan membakar, ia acungkan tinggi-tinggi isi bungkusan miliknya!

AK-47!

Allahu Akbar !!!
Allahu Akbar !!!
Allahu Akbar !!!

Hayya a’lal jihaaaddd…!!!
Khaibar khaibar ya Yahuuud !
Jaisyu Muhammad sauda ya’uuuddd…!
Allahu Akbar…!!!

Bacaan shalat sang imam gaduh oleh isak tangis para jamaah di belakangnya, ayat-ayat jihad yang dibaca semakin menghanyutkan para pendengar pada kondisi emosional tertinggi!

Selesai shalat ratusan pucuk senjata dibagikan pada jamaah masjid. Para ayah pulang berpamitan pada anak istrinya. Para pemuda mencium tangan orang tuanya lama-lama, semoga doa restu menuntun langkah mereka pada kemenangan dunia serta akhirat!

Dan para pedagang menutup tokonya dengan tulisan:

“Tutup untuk berjihad!”

“Tutup sampai Assad mati atau kami yang mati!”

Air mata tumpah di mana-mana, melepas kepergian anggota keluarga yang mungkin tidak akan dijumpai lagi! Sebagian ibu berhati singa melepas anaknya dengan syukuran kecil-kecilan, bagi-bagi permen berikut seisi kulkas di jalan-jalan.

Dan para istri mengalungkan syal bertuliskan kalimat syahadat di leher kekasihnya sambil mengantar mereka bergabung dengan kelompok masing-masing!

Ini situasi yang belum pernah terjadi, aura jihad yang menggetarkan! Penuh romantisme dan mengharukan!

Sore itu pecah baku tembak pertama di Kota Aleppo. Gugur bunga-bunga keharibaan, menemui Sang Pencipta Yang Maha Menjanjikan bahwa kebatilan akan kalah oleh yang hak!!!

Hingga 14 Maret 2015, 4 tahun kemudian, romantisme dan jihad di Aleppo belum juga usai. Bahkan alur cerita macam sinetron yang berpanjang-panjang dan menggelinjang tak berkesudahan terus meluluhlantakkan kota tua bersejarah itu hingga ke puing-puing terakhirnya.

Mari! Kita panjatkan doa sepenuh hati, untuk kemenangan kaum muslimin di Suriah serta medan jihad manapun!

Allahummanshur ikhwaananal mujaahidiina fii Suuriah! Wa fii Falistiin! Wa fii Afghaaan! Wa fii kulli makaaan…!

Demonstrasi damai

 

Tuntutan turunnya diktator Assad

 

Salah satu sudut kota setelah pertempuran

 

Seorang pejuang tertembak, disambut pekikan “Allahu Akbar!” oleh kawan-kawannya! #MujahidinRakyat

 

https://www.facebook.com/aburambo.attamimi/posts/1556690751263462 dan https://www.facebook.com/risalahnews/posts/682098305229040

(Sedikit ada suntingan)

Catatan Malam Ahad 12/7/14

Malam ini mendengar perkataan orang yang, akhirnya, menurut saya mending ditulis di sini daripada saya layani dan berujung debat.

Ini serius. Dia “memuji” Bashar Assad HANYA KARENA BASHAR ASSAD MAU MENGHADIRI MAULID NABI yang diselenggarakan oleh warga Suriah (katanya begitu). Kalaupun maksud dia bukan memuji, nada bicaranya seperti orang memuji.

Saya tidak tahu dia tahu dari mana, sumbernya apa, dan data yang digunakan apa, atau ikut kajian di mana.

Yang masih membuat saya bertanya-tanya adalah yang mengadakan maulid nabi itu Syi’ah atau ahlussunnah? Jika penyelenggaranya adalah Syi’ah, pantas dihadiri wong sama-sama Syi’ah!

Jika penyelenggaranya adalah ahlussunnah, perlu diperhatikan bahwa maulid nabi adalah acara debatable di kalangan ahlussunnah. Lagian buat apa umat Islam (ahlussunnah) mengundang Si Penjagal haus darah macam Bashar Assad?

Palestina Kembali Diserang

gaza 2

Dahulu, jutaan pasang mata umat Islam dunia tertuju pada Palestina. Tertuju pada sebuah kebiadaban teroris sekaligus penjajah, Zionis Yahudi, pada rakyat Palestina. Pantas saja umat Islam marah, karena tanah Palestina bukan hanya tanah rakyat Palestina saja. Di sana tanah umat Islam yang di dalamnya ada Masjid al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam sebelum Masjidil Haram, Mekah, Saudi Arabia.

Empat tahun yang lalu, sebuah tragedi terungkap. Kali ini dialami oleh rakyat Suriah. Berawal dari Arab Spring yang merembet ke beberapa negara di timur tengah, rakyat Suriah menuntut penggulingan rezim zalim dan sesat, yakni rezim Syiah Nushairiyah, yang dimotori oleh Bashar Assad.

Setelah bertahun-tahun fokus umat Islam di seluruh dunia lebih ke Palestina, kini mulai peduli pada Suriah. Mulai peduli pada kezaliman yang tidak kalah kejinya daripada kezaliman yang diperbuat Zionis. Continue reading