Seperti Ini dan Seperti Itu

Sering didapati ketidaksesuaian antara teori dengan aplikasi, idealita dengan realita.

Teorinya seperti ini, aplikasinya seperti itu.
Idealnya demikian, real-nya menyelisihi.

Ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam, dari bahasa Arab) misalnya. Teorinya jelas, bahwa ukhuwah islamiyah adalah persaudaraan atas dasar aqidah yang benar. Tidak memandang atas dasar suku, ras, asal daerah, warna kulit, bahasa, kedudukan, golongan, organisasi. Selagi mereka adalah Muslim dan aqidahnya tidak menyelisihi aqidah ahlussunnah wal jama’ah maka mereka memiliki hak ukhuwah dari kita.

Tetapi sayang, aplikasinya tidak seperti itu. Masih saja kita dapati orang yang “pilih kasih” dalam ber-ukhuwah. Misalnya dengan yang segolongan, begitu wah ukhuwahnya. Begitu pula dengan yang se-suku, se-ras, se-asal daerah, se-warna kulit, se-bahasa, se-kedudukan sosial, se-organisasi. Sah-sah saja memberikan perhatian yang lebih kepada mereka yang memiliki hubungan (keduniaan) dekat dengan kita, tapi atas dasar hubungan aqidah inilah yang lebih selamat dan kekal.

Advertisements

Tetap Jaga Ukhuwah

ukhuwah

Seperti biasa jelang pemilu, beranda dipenuhi dengan kampanye-kampanye unik, kadang aneh.

Tapi yang paling aneh dan tidak masuk akal adalah kampanye negatif yang dilakukan oleh seorang tokoh liberal yang mengatakan bahwa ada salah satu pasangan capres-cawapres yang didukung oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT).

Pertanyaan saya, untuk apa HTI dan JAT dukung capres-cawapres? Benarkah demikian?

Yang saya tahu, HTI dan JAT tidak memilih jalan Demokrasi dalam perjuangan dakwahnya.

CATATAN: Saya bukan anggota HTI maupun JAT (biar tidak dituduh ini itu).


Kepada saudaraku seiman, walaupun berbeda pandangan dalam hal pemilu (mau mencoblos atau tidak) tapi ukhuwah Islamiyah tetap dijaga di antara sesama muslim. Jika ada yang salah, nasihatilah saudara antum ini.